Buat kamu yang lagi bete atau Galau,
rasanya emang nggak enak ati ye. Bawaannya uring-uringan mulu, kepala
nyut-nyutan, hilang mood deh. Terus sebel juga pas ngeliat wajah-wajah yang
kita nggak sukai. Phew, pokoknya kalo lagi bete rasanya hilang semangat tuh.
Lemes! Mau ngapa-ngapain juga bawaannya males.
Sobat muda muslim, kalo kita kena
sindrom bete, itu karena kita kehilangan sesuatu yang bisa bikin kita seneng
hati. Mungkin perlu ditanyain sama diri kamu sendiri, kira-kira apa yang bikin
kamu bete. Mungkin tentang teman yang marahan sama kamu. Bisa juga bejibunnya
tugas-tugas sekolah yang kayaknya kagak ada abisnya. Suasana rumah yang
berantakan; bukan cuma berantakan kondisi fisiknya, tapi juga amburadul suasana
hati para penghuninya. Ortu bawaannya ma-rah-marah mulu, adik rewel aja.
Pusing!
Eh, bisa juga bikin bete kalo kamu
nggak ada kegiatan di luar rumah. Ngadem di rumah mulu bisa bikin boring.
Apalagi seharian nggak ada kawan yang nyapa. Wuih, dunia rasanya sempit bin
sumpek, dan kita merasa satu-satunya penghuni yang jadi korban. Walah?
Kegiatan kamu yang itu-itu aja dan
bertemu dengan kawan-kawanmu yang tam-pangnya udah sering kita kenal adakalanya
bisa bikin bete, lho. Tentu, jika kegiatan itu nggak bikin kamu merasa
tertantang untuk membuatnya lebih seru dan dinamis. Sama bikin bosennya kalo
ketemu temen-temen kita yang udah kita apal banget, tapi dengan kualitas
pertemuan nggak meningkat. Setiap ketemu cuma ditanyain hal-hal yang formal
doang. Nggak pernah basa-basi nanya kabar kamu; kondisi fisik dan mental,
keluarga, dan juga tentang kegiatan dirimu hari ini, misalnya.
Yup, gimana pun juga, kita butuh
teman dan orang yang bisa memberikan warna dalam hidup kita supaya kita nggak
cepet boring bin bete dalam ngejalanin hidup ini. Ada yang bisa memberikan
sentuhan-sentuhan untuk pikiran dan perasan kita dengan beragam informasi en
kegiatan yang menyenangkan. Tul nggak?
Nah sobat muda muslim, jika kamu
udah mulai merasa bete karena alasan-alasan tadi, dan mungkin juga alasan
lainnya yang kebetulan belum sempat diungkap di sini, bolehlah coba untuk
ikutan ngaji aja.
Ngaji? Nggak salah neh? Bukankah
malah tambah bikin bete tuh kegiatan? Ah, nggak usah ngambek en nyolot dulu
deh. Mendingan cobain aja. Nggak rugi kok kalo kamu aktif ngaji. Malah bisa
bikin enak hati. Karena kita dibimbing untuk ngerti tujuan hidup kita. Lagian,
selama ini belum ada tuh anak ngaji yang bawaannya sutris melulu. Kalo pun ada,
biasanya tuh bocah sulit nyetel dengan komunitas anak ngaji. Kenapa sulit
nyetel? Bisa aja niat gabungnya nggak mantep. Jadi masih angin-anginan. Betul?
Oke deh, mungkin ada yang bertanya,
kenapa dengan ngaji bisa bikin nggak bete? Emang apa aja sih keuntungan kalo
kita ngaji? Ini jawabannya:
Mengajarkan
makna hidup
Dalam pengertian umum, hidup
dipahami sebagai esensi alias intisari yang membuat sesuatu menjadi hidup, yang
membedakannya dengan benda-benda mati, baik benda itu benda mati secara
asli; kayak batu, maupun benda mati dalam arti benda yang sebelumnya
berasal dari benda hidup, seperti kayu. Nah lho, moga kamu nggak bingung. Hehehe..
Hidup, dengan demikian, nampak dan
eksis dengan berbagai tanda-tandanya, seperti kebutuhan akan nutrisi, gerak,
peka terhadap rangsangan, pertumbuhan, dan perkembang-biakan. Lawan dari hidup
dalam pengertian biologis ini, adalah mati. Yakni tiadanya atau hilangnya
tanda-tanda kehidupan pada sesuatu. Maka, batu adalah benda mati karena tak ada
satu pun tanda-tanda kehidupan padanya. Demikian pula seseorang yang telah
membujur kaku di kamar jenazah disebut telah mati, karena telah hilang darinya
tanda-tanda kehidupan yang semula dimilikinya. Nah, yang lagi baca ini, masih
hidup kan? Gubrakzz..!
Oya, kalo tadi secara biologis,
sekarang berdasarkan sosiologis, yakni hidup berkaitan erat dengan segala
perbuatan manusia yang terwujud dalam seluruh interaksi yang dilakukannya.
Dengan pandangan yang demikian, hidup berarti menyangkut seluruh aktivitas
manusia dalam berbagai macam interaksinya satu sama lain. Ketika manusia
melakukan aktivitasnya dalam bidang ekonomi, politik, sosial, budaya,
pendidikan, dan lain-lain, berarti dia telah melakukan interaksi dengan manusia
lainnya. Artinya, dia telah menjalani atau “mengisi” hidupnya.
Pertanyaannya, untuk apa sih kita
hidup?
Sebuah pertanyaan yang akan kita
temukan jawabannya di dalam al-Qur’an. Allah ta’ala berfirman
(yang artinya),
“Tidaklah Aku ciptakan jin dan
manusia melainkan supaya mereka beribadah kepada-Ku.” (QS. adz-Dzariyat: 56)
Kalo kita ngaji, nanti bakalan
diajarkan tentang keberadaan kita di dunia ini. Dari mana kita berasal, untuk
apa kita hidup dunia, dan akan kemana kita setelah kehidupan dunia ini. Kalo
ditanya begini, kamu jangan ngeles dengan ngasih jawaban kayak lagu lawas ini:
“Jangan dita-nya, kemana aku pergi..” Hehehe (maksain banget nggak seh?)
Sobat muda muslim, kayaknya kita
kudu mulai serius mikirin soal hidup ini. Tapi juga nggak perlu tegang banget.
Soal hidup ini, Allah Ta’ala. berfirman: “Hai manusia sembahlah Tuhanmu yang
telah menciptakan kalian dan orang-orang sebelum kalian, agar kalian bertakwa.”
(QS al-Baqarah [2] : 21)
Nah, kalo kita nggak ngaji atau ogah
belajar, nggak bakalan tahu tentang makna hidup ini. Itu sebabnya, kalo kita
udah tahu bahwa kita adalah makhluk Allah dan diminta untuk menyembah-Nya
sekaligus bertakwa, maka dijamin kita nggak bakalan bete dalam hidup ini.
Sesulit apapun kehidupan yang kita jalani, kita bakalan menikmatinya dengan
penuh kesabaran dan tawakal kepada Allah. Insya Allah tidak akan pernah merasa
bete.
Memberikan ketenangan
Suer, ini bukan sulap bukan sihir.
Kalo kamu ikut ngaji, insya Allah hati jadi tenang. Kok bisa sih? Begini sobat,
komunitas anak ngaji itu bisa membantu kita menghindari risiko-risiko gaul yang
nggak sehat. Kalo kita gabung di sana, kita dianggap sebagai mitra dan akan
saling ngingetin kalo kita berbuat lalai dan maksiat. Maklumlah manusia, meski
udah tahu seluk-beluk dalil dan hukum syara’, ada aja lupa en teledornya.
Itu sebabnya, komunitas anak ngaji
insya Allah akan memberikan bantuan pertama kalo kita berbuat salah. Mereka
yang akan mengingatkan kita dan senantiasa menjalin persahabatan. Ikatan
persahabatannya kuat karena dilandasi akidah islamiyah.
Komunitas anak ngaji memungkinkan
kita kagak nyeleweng dari ajaran Islam. Aktivitas seks bebas dijauhi, dengan
narkoba nggak bakalan coba-coba, termasuk malu berbuat kriminal. Dalam
komunitas ini, kamu pun bisa menjalin hubungan baik dengan guru agama, dengan
kakak pembina pengajian, dengan teman sebaya, keluarga, bahkan dengan kawan
yang bukan berasal dari sekolah kita. Kawan kita jadi banyak dan tentunya
dipenuhi dengan semangat kebersamaan dalam Islam. Asyik bukan? Coba, gimana
nggak tenang hidup ini.
Menumbuhkan kreativitas
Kalo udah kreatif, insya Allah nggak
bakalan bete deh. Nah, dengan gabung di komunitas anak ngaji, kita bakalan bisa
mengukur dan menilai peran apa yang bisa kita berikan untuk komunitas ini. Kita
bisa ikut berpar-tisipasi dalam aktivitas-aktivitas penuh arti dan memainkan
peran penting. Percaya atau tidak, sambil jalan kamu bakalan bisa ambil
hik-mahnya. Salah satunya, bisa mempelajari dan mempraktikkan cara-cara
menyelesaikan masalah, mengambil keputusan, dan menentukan sasaran hidup.
Bener lho, bergaul bersama dengan
komunitas anak ngaji dan ikut serta dalam beragam kegiatan yang digelar, bikin
kita bisa lebih kreatif mengatasi persoalan hidup. Maklumlah, yang namanya
ngurus kegiatan itu berarti rela mencurahkan segala upaya kita untuk maju
bersama. Di sinilah kreativitas akan tumbuh. Bahkan bisa lebih mendewasakan
kita dalam bersikap. Nggak percaya? Ayo gabung dengan komunitas anak ngaji!
Insys Allah nggak bakalan nyesel. Pasti!
Memupuk jiwa sosial
Boleh percaya boleh tidak. Tapi kali
ini kamu kudu percaya. Hehehe.. maksa banget ya? Begini sobat, dengan ikutan
ngaji dan punya club anak ngaji, jiwa sosial kamu pun bisa terpupuk dengan
baik. Di antaranya, menguta-makan dan melayani orang lain.
Islam mengajarkan untuk saling
menolong dalam kebaikan. Menolong teman yang sedang dalam kesusahan adalah
tanggung jawab kita dan itu perbuatan yang mulia. Keberadaan orang lain di
sekitar kita jangan dianggap sebagai bilangan doang, tapi juga kudu
diper-hitungkan. Kalo mereka membutuhkan uluran kita, ya kita kudu peduli.
Dari Anas bin Malik radhiyallahu’anhu,
Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallambersabda, “Tidak beriman
salah seorang dari kalian hingga dia mencintai bagi saudaranya apa yang dia
cintai bagi dirinya sendiri.” (HR. Bukhari no. 13 dan Muslim no. 45)
dan… Rasulullah shallallaahu ‘alaihi
wa sallam bersabda,
“Barangsiapa yang melapangkan satu
kesusahan dunia dari seorang mukmin, maka Allah melapangkan darinya satu
kesusahan di hari Kiamat. Barangsiapa memudahkan (urusan) atas orang yang
kesulitan (dalam masalah hutang), maka Allah memudahkan atasnya di dunia dan
akhirat. Barangsiapa menutupi (aib) seorang muslim, maka Allah menutupi
(aib)nya di dunia dan akhirat. Allah senantiasa menolong hamba selama hamba
tersebut senantiasa menolong saudaranya. Barangsiapa yang meniti suatu jalan
untuk mencari ilmu, maka Allah memudahkan untuknya jalan menuju Surga. Tidaklah
suatu kaum berkumpul di salah satu rumah Allah (masjid) untuk membaca
Kitabullah dan mempelajarinya di antara mereka, melainkan ketenteraman turun
atas mereka, rahmat meliputi mereka, Malaikat mengelilingi mereka, dan Allah
menyanjung mereka di tengah para Malaikat yang berada di sisi-Nya. Barangsiapa
yang lambat amalnya, maka tidak dapat dikejar dengan nasabnya.” [Hadits shahih:
Diriwayatkan oleh Muslim (no. 2699), Ahmad (II/252, 325), Abu Dawud (no. 3643),
At-Tirmidzi (no. 2646), Ibnu Majah (no. 225), dan Ibnu Hibban (no.
78-Mawaarid), dari Shahabat Abu Hurairah radhiyallaahu ‘anhu. Lafazh ini milik
Muslim.]
Nah, dengan terpupuknya jiwa sosial
kita, insya Allah kita nggak bakalan lagi merasa bete kalo kita sedang dalam
keadaan susah. Dengan menengok ke kalangan bawah, ternyata kita masih bisa
makan dan minum dengan layak ketimbang mereka. Itu arti-nya, nggak adil kalo
kita ma-sih bete dengan berkeluh kesah soal hidup. Bahkan se-baliknya, kita
akan me-nolong mereka yang kondisinya lebih bu-ruk dari kita. Jadi, kalo kita
nggak ngaji, mana tahu soal ini.
Memantapkan stabilitas
Sobat muda muslim, kalo kita ngaji
dan bergabung dengan genk anak ngaji, bisa membuat hidup kita stabil. Harus
kita akui bahwa se-panjang hidup kita, banyak hal bakal berubah. Kamu akan
lulus sekolah, mungkin juga pergi meninggalkan rumah untuk kos di tempat
kuliahmu nanti, atau mungkin bekerja. Belum lagi kalo terus berpindah-pindah
tempat tinggal dan bekerja di lebih satu tempat, kita akan banyak menemukan
yang serba baru.
Kondisi seperti ini, seringkali
bikin bete kan? Mungkin kudu memulai lagi dari awal untuk menata pergaulan
dengan lingkungan sekitar. Butuh waktu yang nggak sebentar euy. Tapi yakinlah,
kalo kamu gabung dengan komunitas anak ngaji, dan ikut kajian di sana, kamu
bakalan nggak bete. Kenapa?
Karena di mana pun kamu berada
bakalan ketemu orang-orang yang menganut nilai-nilai yang sama dan berjuang
untuk tujuan yang sama. Ini akan membuat kita punya motivasi yang tak ada
habisnya sepanjang hidup kita. Di mana pun dan kapan pun. Insya Allah stabil,
aman, dan terkendali.
Oke deh, semoga beberapa keuntungan ngaji dan
gabung dengan komunitas anak ngaji ini bisa membuatmu kagak bete lagi.
Sebaliknya, kita songsong kehidupan masa depan yang lebih baik. Apalagi jika
tujuan kita selama ngaji tercapai, yakni ingin melanjutkan kembali kehidupan
Islam di bawah naungan Khilafah Islamiyah. Wuih, senengnya bisa ikutan
ber-juang. Jadi, ngaji yuk !